
Mengajar Bukan Sekadar Seremonial: Refleksi Tajam Hari Guru 2025
Penulis: Miftahul Rahman, Kepala MIM Prestisius Ponorogo
Hari Guru Nasional 2025 datang pada saat dunia pendidikan kita memasuki fase yang semakin kompleks. Di tengah derasnya tuntutan administrasi, ekspektasi publik, dan budaya digital yang serbacepat, guru kerap terjebak pada rutinitas teknis. Banyak yang tanpa sadar kehilangan ruh sejatinya yaitu menjadi pendidik, bukan sekadar pengajar.
Ruang-ruang kelas hari ini sering berubah menjadi tempat bercerita tentang teori, rumus, dan materi pelajaran, tetapi kering dari sentuhan karakter. Kita melihat bagaimana sekolah berlomba-lomba membuat program yang tampak ramai, seremonial, atau sekadar populer, namun nilai manfaatnya bagi peserta didik nyaris tak terasa.
Bahkan, di beberapa tempat, pendidikan dikemas seperti konten media sosial: mengejar “FYP”, viral, likes, dan views, seakan-akan keberhasilan sekolah diukur dari seberapa sering muncul di linimasa.
Padahal, pendidikan bukanlah panggung sensasi. Ia adalah laku sunyi membentuk manusia. Ia adalah kerja panjang menumbuhkan akhlak sebelum menajamkan intelektual. Ketika sekolah sibuk mengejar hingar-bingar, kita berisiko melahirkan generasi yang piawai bicara tetapi rapuh dalam karakter, hebat di layar tetapi kosong dalam integritas.
Dalam momentum Hari Guru Nasional ini, kita perlu melakukan refleksi mendalam: sudahkah kita menempatkan esensi pendidikan pada posisi yang semestinya? Sudahkah guru kembali menjadi teladan, bukan hanya penyampai materi? Sudahkah sekolah membangun budaya yang mendidik, bukan sekadar memoles citra?
Perubahan tentu tidak harus dimulai dari hal besar. Justru ia tumbuh dari kesadaran kecil yang dilakukan secara konsisten. Dari ruang kelas yang kembali hangat dengan bimbingan, bukan sekadar instruksi. Dari obrolan antara guru dan murid yang lebih penuh makna dibandingkan sekadar penyampaian target kurikulum. Dari program-program sekolah yang fokus pada kebermanfaatan, bukan kepopuleran.
Ada sebuah kata mutiara yang layak direnungkan kembali:
“Jangan kejar kupu-kupu, tapi rawat kebunmu; maka kupu-kupu akan datang.”
Pendidikan pun demikian. Jangan mengejar prestasi yang instan, popularitas yang kosong, atau pengakuan yang semu. Rawatlah lingkungan belajar, bangun keteladanan, perkuat karakter, dan hadirkan kasih dalam proses mengajar. Jika kebunnya subur, kupu-kupu prestasi, reputasi, dan kepercayaan masyarakat akan datang dengan sendirinya.
Hari Guru Nasional 2025 menjadi pengingat bahwa tugas kita bukan sekadar mengajar, tetapi mendidik. Bukan hanya menyiapkan murid untuk ujian, tetapi menyiapkan mereka untuk kehidupan. Saat ruh keguruan kembali dipeluk, pendidikan Indonesia akan menemukan arah yang lebih jernih dan bermartabat.



