
Deep Learning dan Kurikulum Merdeka: Jalan Berkemajuan bagi Calon Guru Muhammadiyah di Era Digital
Penulis: Dr. Sigit Dwi Laksana, M.Pd.I || Dosen Prodi S1 PGMI Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Transformasi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka membawa warna baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Pendekatan deep learning yang kini diutamakan menuntut guru tidak hanya mengajar, tetapi membangun cara berpikir kritis dan reflektif pada peserta didik. Data Kemendikbud tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 80% satuan pendidikan telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara bertahap. Hal ini menunjukkan gerak maju yang masif, namun juga menuntut mahasiswa sebagai calon guru untuk memahami filosofi dan teknis pengajaran yang benar-benar berorientasi pada pemahaman mendalam, bukan sekadar penyelesaian tugas.
Praktiknya deep learning dapat hadir melalui pembelajaran berbasis proyek (PjBL), studi kasus konteks lokal, atau integrasi masalah-masalah sosial di masyarakat. Contohnya, guru PGMI dapat mengajak siswa mengamati fenomena lingkungan sekitar, menganalisis penyebab, merumuskan solusi, hingga mempresentasikan hasilnya dengan dukungan teknologi digital. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menempatkan murid sebagai aktor utama pembelajaran. Tantangannya, menurut laporan Pusdatin, masih terdapat kesenjangan literasi digital guru, terutama di daerah, yang menuntut calon guru untuk lebih siap, adaptif, dan mampu memimpin perubahan.
Nilai-nilai kemuhammadiyahan menjadi fondasi moral yang tidak boleh diabaikan. Prinsip berkemajuan mendorong lahirnya guru yang terbuka terhadap inovasi dan teknologi; semangat tajdid mengajarkan pentingnya pembaruan pemikiran tanpa meninggalkan nilai dasar; sementara amar ma’ruf nahi munkar memberi arah etika dalam memanfaatkan digitalisasi agar tidak menjauhkan pendidikan dari nilai kemanusiaan. Dalam tradisi Muhammadiyah, ilmu tidak hanya dicari untuk kecakapan, tetapi untuk kebermanfaatan. Maka, mahasiswa harus memaknai teknologi sebagai sarana dakwah pencerahan (tanwir), bukan sekadar alat bantu pengajaran.
Digitalisasi pendidikan juga membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk memperkuat kompetensi digital mereka melalui platform online learning, open courseware, dan pemanfaatan AI dalam desain pembelajaran. Muhammadiyah sendiri telah menunjukkan komitmen kuat terhadap modernisasi pendidikan melalui keberadaan lebih dari 170 perguruan tinggi, ratusan pesantren modern, dan sekolah berkemajuan yang menjadi pionir pemanfaatan teknologi pembelajaran. Namun, teknologi hanya bermakna jika dibarengi dengan karakter: kejujuran, amanah, kepedulian sosial, serta kemampuan menjadi teladan bagi peserta didik. Inilah wujud dari akhlak al-karimah yang menjadi ciri insan pendidik Muhammadiyah.
Akhirnya, integrasi Kurikulum Merdeka, pendekatan deep learning, dan nilai kemuhammadiyahan harus menjadi identitas kuat bagi mahasiswa PGMI dan calon guru di Indonesia. Mereka tidak hanya dituntut cakap teknologi, tetapi juga cerdas spiritual, berkarakter utama, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Dengan memadukan kecakapan digital dan nilai-nilai keislaman berkemajuan, calon guru Muhammadiyah dapat menjadi agen perubahan yang mencerahkan (rahmatan lil ‘alamin) serta memajukan pendidikan bangsa menuju peradaban yang lebih unggul dan humanis.



